Sabtu, 23 Februari 2013

PRINCE OF JIHAD







PRINCE OF JIHAD






Aku


Apa gerangan yang dilakukan musuh pada diriku


Aku, sungguh surgaku ada di hatiku


Dan taman-taman yang indah ada di dadaku


Ia selalu terus ada tetap bersamaku


Dan selalu ikut kemana saja kepergianku


Tak seorangpun bisa merampasnya dariku


Aku, andai mereka sampai membunuhku


Maka itulah waktu khalwat bersama Tuhanku


Dan jika mereka berani membunuhku


Sungguh, itulah bentuk kesyahidan bagiku


Dan merekapun akan segera menyusul kepergianku


Dan jikalau mereka dari negeri ini mengugusurku


Maka ku anggap itulah bentuk wisataku


Aku adalah aku yang mengerti benar jalan hidupku


Aku takkan pernah peduli dengan orang yang mencelaku


Selagi Allah tetap ridha dan mencintaiku


Aku tahu bahwa thaghut tidak menyukaiku


Tapi itu tidak masalah selama aku ada di jalan Tuhanku


Dan mana mungkin syaitan menyukai ajaran Nabiku


Tauhid akan kujunjung di atas kepalaku


Dan Pancasila syirik kan ku injak dengan kakiku


Hukum ilahiy ku angkat tinggi dengan tanganku


Dan undang-undang kafir kan ku tebas dengan pedangku


Enyahlah hai hamba thaghut, kalian adalah musuh abadiku


Dan aku adalah musuhmu sepanjang hidupku


Bila kalian ragu dengan ajaran tauhidku


Dan merasa benar dengan ajaran musuh Tuhanku


Mari kita mati bersama ! kamu dan aku..

HANTARKAN AKU KE SANA….


HANTARKAN AKU KE SANA….

Gejolak yang membuncah memenuhi dada ini…
Bersama asa yang rindu mendalam…
Dari hamba yang berlumur dosa dan kealpaan…
Berharap dapat bersua dengan-Mu…
Wahai Rabbul`alamiin…
Dengan taubat ku berharap…
Kuatkan jiwa ini mendatanginya…
Kokohkan langkah kaki ini menempuhnya…
Azzamkan niat ini dalam mencapainya…
Ikhlaskan hati ini menjalaninya…
Aku rindu…aku rindu…aku rindu…
Rindu berjumpa dengan-Mu dalam SYAHADAH…
Rindu bersua dengan-Mu dalam IMAN…
Rindu bersama-Mu dalam TAUHID…
Rindu indahnya hidup dalam naungan ridha-Mu…
Syari`at ISLAM…Daulah ISLAM…Khilafah ISLAM
Duhai Alloh yang tiada sekutu bagi-Mu…
Hantarkanlah kerinduanku ini…
Mudahkanlah…
Lapangkanlah…
Tuk raih cita-cita…
KEMULIAAN HIDUP DALAM ISLAM, ATAU
KESYAHIDAN DALAM PERJUANGAN
Aku berharap termasuk yang Kau hantarkan….
Ridhai dan kabulkanlah…
Amien ya Alloh, ya Rabbal`alamiin…

YAIR-SYAIR JIHAD


YAIR-SYAIR JIHAD

Apa untuk Jihad di Sana Ada yang Mencari Jalan ?
Bagi setiap musibah ada penghibur yang meringankannya
Tapi bagi yang menimpa Islam tiada penghiburnya
Sampai semua mihrob menangis padahal ia benda mati
Bahkan seluruh mimbar merintih sedangkan ia kayu jati
Seorang `Abid yang tunduk kepada Alloh lagi penuh kekhusyu`an
Sedang air mata dari kedua pipinya bercucuran
Kini masjid-masjid telah menjadi gereja di waktu maghrib
Tidak ada di dalamnya selain lonceng dan kayu salib
Itulah musibah melupakan apa yang telah lalu
Dan tidak mungkin lupa walau waktu telah lama berlalu…
Wahai para penunggang kuda yang kurus kelelahan
Seolah ia burung penyambar dalam bidang pacuan
Wahai para penyandang pedang India yang tajam
Seolah ia bara api di kegelapan malam yang kelam
Wahai orang-orang bercengkrama di belakang sungai karena gembira
Di negerinya mereka memiliki kejayaan dan kuasa…
Apa kalian telah mengetahui berita tentang Islam sekarang
Sungguh para pengendara telah berjalan dengan berita mereka
Sungguh banyak para tokoh meminta bantuan
Sedang mereka tawanan dan terbunuh
Namun tidak bergeming satupun manusia
Kenapa saling memutus dalam Islam di antara kalian
Sedang kalian wahai hamba-hamba Alloh adalah Saudara
Apa tidak ada jiwa-jiwa besar yang memiliki cita-cita
Apa terhadap kebaikan ini ada penolong dan pembela…
Hai orang-orang yang untuk membela suatu kaum telah terpecah banyak golongan
Yang karenanya mereka diserang kekafiran dan kedurjanaan
Kemarin mereka raja-raja di istana mereka
Sekarang dalam belenggu kekafiran mereka menjadi sahaya
Andai engkau melihat mereka bingung tiada penunjuk jalan
Berbagai pakaian kehinaan mereka telah rasakan
Andai engkau lihat tangisan mereka saat diperjual-belikan
Tentu engkau terperangah dan diliputi kepedihan…
Ya Robb, bayi dan sang ibu telah dipisahkan
Sebagaimana ruh telah dijauhkan dari badan
Sang puteri yang tak pernah dilihat matahari dengan terbuka
Seolah ia berlian dan batu permata
Kini digiring si bule sebagai budak seraya dihinakan
Matanya menangis dan hati penuh keheranan
Untuk seperti ini hati luluh karena kesedihan
Andai di hati ini ada Islam dan keimanan
Apa untuk Jihad disana ada yang mencari jalan…
Sungguh surga peristirahatan telah penuh dengan hiasan
Bidadari dan para pelayan telah menengok dari kamar-kamar
Mendapatkan kebaikan ini demi Alloh mereka para pendekar
Kemudian sholawat kepada Al-Mukhtar dari Alloh semoga di limpahkan
Sepanjang angin berhembus dan berguncang dahan pepohonan…

Bid’ah kah Qunut Subuh ?


Bid’ah kah Qunut Subuh ?

untuk membahas ini saya menyalin tulisan dari suatu buku, yakni 40 masalah Agama jilid 1 , karangan KH. Siradjuddin Abbas, berikut di bawah ini :

QUNUT SHUBUH ADALAH SUNNAT

Menurut Madzhab Imam syafi’I Rhl. Yang kami anut dan yang dianut juga oleh Ulama-ulama besar dalam Madzhab Syafi’i seperti Imam Ghazali, Imam Nawawi, Imam Ibnu Hajar al Haitami, Imam ar Ramli, Imam Khatib Syarbaini, Imam Zakaria al Anshari dan lain lain, bahwa huku membaca doa qunut dalam sembahyang subuh pada I’tidal rakaat yang kedua adlah sunnat ab’ad. Diberi pahala yang mengerjakannya dan tidak diberi pahala sekalian orang yang meninggalkannya.

Tersebut dalam kitab “Al Majmu”, Syarah Muhadzab, karangan Imam Nawawi Rahimahullah(wafat 676 H), pada jilid ke III halaman 400 begini :

“Dalam madzhab kita (Madzhab Syafi’i) adalah sunnat hukumnya membacado’a qunut dalam sembahyang subuh itu, baik ketika turunnya bala atau tidak. Ini adalah pendapat yang banyak dari ulama ulama salaf, atau katakanlah yang paling banyak, dan juga pendapat ulama ulama yang dibelakang ulama-ulama salaf itu. Diantara yang berpendapat serupa ini adalah Saidina Abu Bakar, Umar bin Khathab, Utsman, Ali, Ibnu Abbas, Bara’ bin ‘Azib Rda”.(Al Majmu’ syarah Muhadzab III halaman 504).

Dalam keterangan Imam Nawawi ini dapat difahamkan, bahwa sahabat-sahabat Nabi yang utama semuanya membaca do’a qunut subuh, dan para sahabat ini adalah “hujatul Ummah” (pemimpin umat Islam) yang harus diikuti oleh segenap Ummat Islam.

Adapun dalil-dalil fatwa ini adalah :

Dalil yang kesatu :

Tersebut dalam kitab hadits begini :

“Dari Saidina Anas bin Malik, bahwasanya Rasulullah Saw qunut satu bulan mendoakan celaka bagi orang-orang itu kemudian qunut itu ditinggalkan beliau. Adapun di waktu subuh maka beliau selalu qunut sampai beliau meninggal dunia” (Hadits Riwayat Imam Baihaqi dan Daruquthni – Baihaqi II halaman 200).

Penjelasan hadits ini ialah, bahwa dulu ada orang membunuh sahabat-sahabat Nabi sebanyak 1k. 70 orang. Nabi sangat terharu mendapat kabar itu, dan beliau mendo’a kepada Tuhan dalam qunut subuh supaya orang-orang yang membunuh sahabat-sahabat beliau itu dicelakakan.

Kemudian qunut mendo’akan celaka ini dihentikan, karena dilarang oleh Tuhan dengan firman-Nya:

“Tak ada sedikitpun campur tanganmu (hai Muhammad) dalam urusan mereka itu, atau Allah menerima taubat mereka atau menghukum mereka, karena sesungguhnya mereka orang-orang yang zalim”(Ali Imran : 128).

Tersebut dalam Tafsir Ibnu Jarir Thabari :

“Dari Abu Hurairah beliau berkata : Adalah Rasulullah Saw. Berkata pada ketika selesai dari membaca Fatihah dan Takbir, beliau mengangkat kepalanya : Mendengar Allah bagi orang yang memujiNya, hai Tuhan kami, buatMu segala pujian, kemudian beliau berdo’a sambil berdiri : Ya Allah bebaskanlah Walid bin Walid, Salamah bin Hisyam, Iyasy bin Abi Rabi’ah dan sekalian orang mukmin yang lemah, Ya Allah berikanlah hukuman yang keras pada Mudhar, jadilah tahunnya seperti tahun-tahun Nabi Yusuf, ya Allah kutukilah Lihyan dan Ri’lan, Dzakwan dan U’shayyah yang telah mendurhaka Tuhan dan Rasul-Nya”.

Kemudian sampai kepada kami, kata yang merawikan, bahwasanya Nabi meninggalkan cara begitu setelah turun ayat ” Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu, atau Allah menerima taubat mereka atau menghukum mereka, karena sesungguhnya mereka orang-orang yang zalim” (Tafsir Thabari juzu’ 4, pagina 89 – lihat Muslim V hal. 176-177).

Maka teranglah bahwa yang ditinggalkan Nabi yang tersebut dalam hadits Imam Baihaqi itu ialah “Qunut Nazilah” yang memintakan celaka orang-orang kafir.

Adalah qunut subuh yang biasa, dengan doa “Allahummahdini” sampai ke akhirnya tetap dikerjakan Nabi sampai beliau meninggal.

Pengertian ini dikuatkan dengan sebuah hadits dalam kitab Bukhari dan Muslim begini :

“Dari Anas Rda. Bahwasanya Nabi Muhammad Saw. Qunut sebulan sesudah ruku’ memintakan celaka sebuah suku dari Arab Badui, kemudian Nabi meninggalkan qunut itu”(H.R. Bukhari dan Muslim – lihar syarah sahih Muslim V hal 180).

Jelas bahwa yang ditinggalkan adalah do’a minta celakakan orang, bukan qunut pagi yang biasa kita kerjakan.

Dalil kedua

Tersebut dalam kitab hadits :

“Dari Anas Rda. Beliau berkata : Bahwasanya Nabi Muhammad Saw qunut pada sembahyang Maghrib dan Subuh”(H.R. Imam Bukhari – Sahih Bukhari I halaman 127).

Dan lagi tersebut dalam hadits Bukhari begini :

“Dari Abi Salamah, dari Abi Hurairah, beliau berkata : Sembahyang saya paling dekat samanya dengan sembahyang Rasulullah Saw. Maka adalah sembahyang Abu Hurairah – kata Abu Salamah – qunut pada raka’at yang akhir pada sembahyang Dzuhur, sembahyang Isya dan sembahyang Subuh, pada kemudian beliau mengatakan “ Sami’allahu liman hamidah”, maka beliau mendoakan orang mu’min dan mengutuk orang kafir”(H.R Imam Bukhari – Sahih Bukhari juzu’ I pagina 104).

Jelas dalam hadits ini dan hadits yang terdahulu daripadanya, bahwa qunut itu ada dalam sembahyang Dzuhur, Isya dan Subuh.

Imam Sindi, pengarang hasyiyah Sahih Bukhari mengatakan, bahwa menurut sebahagian yang qunut itu sudah dinasikhkan semuanya tetapi ada sebahagian yang mengatakan bahwa qunut dalam sembahyang Subuh tidak dinasikhkan (lihat hasyiyah Sahih Bukhari juzu’ 1 pagina 104).

Dari kedua hadits ini didapat pengertian bahwa Nabi Muhammad Saw mendo’a qunut pada sembahyang Subuh dan sembahyang Maghrib.

Teranglah bahwa ada Nabi qunut pada sembahyang Subuh dan Maghrib, maka barangsiapa yang mengatakan bahwa mendo’a qunut itu bid’ah tandanya ia tidak mengetahui hadits Bukhari ini,

Dalam mengartikan hadits Muslim itu berkata Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarah Muhadzab: “telah ada ijma’ ulama Islam bahwa qunut dalam sembahyang Maghrib itu sudah ditiadakan”(dinasakhkan).

Dalil ketiga

Tersebut dalam kitab hadits:

“Dari Ibnu Abbas, beliau berkata : Adalah Rasulullah Saw menganjurkan kepada kami do’a yang akan dibaca dalam qunut pada sembahyang Subuh, maka ia sebut : “Allahummahdini sampai akhirnya”.(H. Riwayat Imam Baihaqi – lihat Baihaqi II hal 210).

Ini terang bahwa Nabi Muhammad Saw ikutan kita menganjurkan kepada ummat Islam supaya ia membaca do’a allahummahdini pada qunut Subuh.

Melihat hadits ini maka heran juga kita, kenapakah ada orang yang mengatakan bahwa qunut subuh itu bid’ah.

Dalil keempat

Telah diriwayatkan:

“Dari Abu Hurairah Rda. Beliau berkata : Adalah Rasulullah Saw apabila mengangkat kepalanya dan ruku’ dalam sembahyang Subuh pada raka’at yang kedua, mengangkat dua tangannya dan mendo’a dengan do’a ini : Allahummahdini sampai akhirnya”(H. Riwayat Imam Hakim dan Beliau katakana ini hadits Sahih).

Dalil kelima

“Dari Anas Rda bahwasanya Nabi Muhammad Saw mengangkat dua tangannya pada ketika qunut.” (H. Riwayat Imam Baihaqi – Baihaqi II halaman 211).

Kelihatanlah bahwa Nabi kita, bukan saja mendoa’akan qunut, tetapi mengangkat tangannya pada ketika qunut itu, yakni yang sebagai dilakukan beliau dalam waktu-waktu yang lain.

Dalil keenam

“Dari Ibnu Abbas Rda adalah Rasulullah Saw qunut pada sembahyang Subuh dan pada sembahyang witir malam dengan kalimat-kalimat ini : Allahummahdini sampai akhirnya”.(H Riwayat Imam Baihaqi – lihat juzu’ II halaman 210).s

Maka dengan dalil dalil ini nyatalah bahwa hadits-hadits qunut itu tersebut dalam kitab-kitab Bukhari, Ibnu Majah, Abu Daud, Nasa’I dan Baihaqi.

Dalil ketujuh

Telah diriwayatkan begini :

“Dari Anas, bahwa ia ditanya orang tentang qunut dalam sembahyang subuh, sebelum ruku’ atau sesudah ruku’, maka jawabannya : kedua-duanya kami buat.” (H.R. Imam Ibnu Majah- Ibnu Majah I halaman 359-360).

Jadi, Anas bin Malik berqunut pada sembahyang Subuh, Anas bin Malik adalah seorang sahabat Nabi yang utama, yang mengkhidmati Nabi selama 10 tahun.

Adalah masuk akal bahwa perbuatan itu dilihat oleh Nabi dan telah ditetapkan oleh Nabi.

Dalil kedelapan

“Dari Awan bin Hamzah, beliau berkata : saya bertanya kepada Abu Utsman tentang qunut pada sembahyang Subuh, beliau menjawab, sesudah ruku’. Saya bertanya lagi, fatwa siapa itu? Jawabnya fatwa Abu Bakar, Umar dan Utsman Rda”.(H.R. Imam Baihaqi – lihat Baihaqi II halaman 202)

Dalam riwayat ini ternyata ada 3 orang khalifah Rasyidin, yaitu Abu Bakar, Umar dan Utsman qunut pada sembahyang Subuh sesudah ruku’.

Khalifah-khalifah Rasyidin itu adalah ikutan Ummat Islam, karena Nabi Muhammad Saw menyuruh ummat Islam supaya mengikut kepada beliau-beliau itu.

Dalil kesembilan

Tersebut dalam hadits Abu daud :

“Dari Barra bin ‘Aziz Rda beliau berkata : Bahwasanya Nabi Muhammad Saw. qunut pada sembahyang Subuh” (Sunan Abu Daud II halaman 68).

Jelas sekali bahwa Nabi kita, Nabi Muhammad Saw ada berqunut pada sembahyang Subuh, dan kita pun harus qunut pula karena Nabi kita itu adalah ikutan yang baik bagi kita.

Adapun do’a qunut yang lebih baik ialah “Allahummahdini” sampai kepada akhirnya.

Bacalah terus hadits-hadits di bawah ini :

Dalil kesepuluh

Telah diriwayatkan begini :

“Berkata Hasan bin Ali Rda., mengajarkan akan saya Rasulullah Saw do’a do’a yang akan say abaca dalam qunut witir, yaitu “allahummahdini fiman hadait wa afini fiman a-fait … sampai pada akhirnya”. (H.R. Imam Tirmidzi – Lihat kitab Sahih Tirmidzi, juzu’ II pagina 250 . 251).

Walaupun Saidina Hasan bin Ali mengatakan bahwa do’a ini untuk dibaca dalam sembahyang witir, tetapi cara-cara qunut dalam sembahyang witir sama dengan qunut sembahyang Subuh, karena ada riwayat begini:

“Dari Ibnu Abbas dan lainnya, bahwasanya Nabi Muhammad Saw mengajarkan do’a ini (allahummahdini sampai akhirnya) untuk do’a qunut dalam sembahyang Subuh”(H.R. Imam Baihaqi – Baihaqi II hal 210).

Dan pula diriwayatkan:

“Dari Muhammad bin Hanafiyah, ia itu adalah anak Ali bin Abi Thalib juga, beliau berkata : “Bahwasanya do’a ini (allahummahdini sampai akhirnya), itulah doa yang dibaca bapak saya dalam qunut pada sembahyang subuh”. (H.R. Imam Baihaqi – lihat Baihaqi II hal 209).

Kedua-dua riwayat Imam Baihaqi ini diambil over juga oleh Imam Nawawi dalam kitabnya al-Majmu’s syarah Muhadzab pada jilid III, pagina 496.

Maka teranglah bahwa doa yang dibaca dalam qunut Subuh yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw ialah “allummahdini” sampai akhirnya.

Dan diambillah pengertian, bahwa Nabi Muhammad Saw bukan saja mengajarkan do’a qunut tetapi beliau juga mengamalkan qunut itu.

Dalil kesebelas

Tersebut dalam kitab hadits begini :

“Dari Abu Hurairah Rda., beliau berkata : Adalah Rasulullah Saw. apabila mengangkat kepalanya dari ruku’ pada sembahyang subuh, pada raka’at yang kedua, beliau mengangkat kedua tangannya dan mendo’a tangan dengan do’a ini, yaitu “Allahummahdini fiman hadait…dsb.” (H. Riwayat Imam Hakim dan Beliau mengatakan bahwa hadits ini sahih – Mahalli I halaman 157)

Imam Hakim yang meriwayatkan hadits ini mengatakan dengan tegas bahwa hadits ini, hadits sahih, bukan hadits dha’if, maka karena itu omongan yang mengatakan bahwa hadits dha’if tidak bisa diterima.

Nah kalau dibuka-buka kitab-kitab hadits yang banyak itu niscaya akan didapat di dalamnya banyak sekali dalil-dalil yang bersangkutan dengan qunut pada sembahyang subuh ini.

Pada hakekatnya dalil itu tidak perlu banyak, tetapi cukup satu saja bagi orang yang beriman dengan Allah dan Rasulnya, tetapi kita ungkapkan juga di sini agak banyak untuk meyakinkan umma, bahwa ucapan atau ocehan orang-orang yang mengatakan “qunut subuh” itu adalah bid’ah, ternyata omongan yang tidak beralasan sama sekali dan tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Adapun dalam soal mengangkat tangan ketika mendo’a qunut telah diterangkan dalam dalil kelima dan kesebelas, yang tidak perlu diulang lagi.

Tetapi Imam Baihaqi meriwayatkan :

Dalil kedua belas :

Telah diriwayatkan begini :

“Berkata Imam Baihaqi : Bahwasanya sekumpulan Sahabat Nabi Rda mengangkat tangan dalam mendo’a qunut”.(Riwayat Imam Baihaqi – lihat Baihaqi II hal 211).

Nabi dan Sahabat-sahabat Nabi adalah ikutan ummat Islam.

Nabi Muhammad Saw mengangkat tangan beliau dalam mendo’a qunut, dan begitu juga Sahabat-sahabat Beliau. Kita ummat Islam wajib mengikuti Nabi dan mengikut sahabat-sahabat itu.

Dalil ketiga belas :

Tersebut dalam kitab hadits :

“Dari Sa’ad bin Ali Waqash Rda beliau berkata : kami keluar bersama Rasulullah Saw. dari Mekkah menuju Medinah. Setelah hampai di Aswara’ beliau turun dari kendaraannya kemudian beliau angkat tangan beliau dan beliau mendo’a seketika lamanya kemudian beliau sujud. Ada 3 kali dibuat macam itu”.(H. Riwayat Abu Dud – Sunan Abu Daud III hal. 89)

Hadits ini dikutip oleh Imam Nawawi dalam kitab Riyadhus Shalihin pagina 473

Dari hadits ini ternyata bahwa Nabi Muhammad Saw. mengangkat tangan beliau ketika mendo’a

Oleh karena bacaan Allahummahdini dalam qunut Subuh adalah do’a maka harus diangkat tangan ketika membacanya, sesuai dengan hadits ini.

Dalil keempat belas :

Tersebut dalam kitab hadits :

“Berkata Sahabat Nabi Musa (Al Asy’ari) : Nabi Muhammad Saw mendo’a, beliau angkat tangannya ketika mendo’a. saya lihat putih ketiak beliau” (Riwayat Imam Bukhari – Fathul Bari XIII pagina 391)

Dan kedapatan hadits lagi :

“Berkata Sahabat Nabi Ibnu Umar : mengangkat Nabi kedua tangannya dan mendo’a Ya Allah saya berlepas diri dari perbuatan Khalid bin Walid”.(H.R. Bukhari – Muslim)

Hadits yang dua ini adalah hadits riwayat Imam Bukhari yang sangat sahih, tak diragukan lagi, dimana dikatakan bahwa Nabi mengangkat tangan beliau ketika berdo’a.

Melihat hadits Bukhari ini maka heranlah kita mendengar fatwa sebagian Mubaligh-mubaligh yang memfatwakan tidak sunnat mengangkat tangan ketika mendo’a. Apakah mereka tidak berjumpa dengan hadits ini, ataukah sengaja tidak menuruti Sunnah Rasul, atau bagaimana ? Imam Bukhari meletakkan kedua hadits ini di bawah bab berjudul : Mengangkat tangan dalam mendo’a.

Dalil kelima belas

Tersebut dalam kitab Hadits :

Nabi berkata : Bahwasanya Tuhanmu hidup dan pemurah, ia malu dari hamba-Nya akan menolak do’anya, kalau hamba itu mendo’a mengangkat tangan kepadanya” (H.R. Imam Abu Daud dan Tirmidzi, lihat Sahih Tirmidzi, juzu XIII, pagina 68).

Dalam hadits ini seolah-olah Nabi memerintahkan, kiranya Ummat Islam harus mengangkat tangannya ketika mendoa karena doa yang diminta ketika tangan diangkat itu dikabulkan Tuhan, tidak kosong kembalinya.

Sebagai dimaklumi, bahwa Qunut Subuh itu adalah do’a dan karena itu Sunnat mengangkat tangan ketika membacanya, sesuai dengan hadits-hadits yang kita kemukakan ini.

Dalil yang keenam belas

Tersebut dalam kitab Hadits Muslim:

“Dari Abdurrrahman bin Samurah : “Maka sampai aku kepada Rasulullah Saw. dan beliau sedang mengangka tangannya mendo’a, takbir dan tahmid dan tahlil….”(H.Riwayat Imam Muslim, lihat syarah Muslim juzu’ VI, pagina 216).

Dalam hadits ini nyata bahwa Nabi Muhammad Saw mengangkat tangan beliau dalam mendo’a dalam sembahyang kusuf.

Dalam hadits Muslim ini juga:

“Berkata Sahabat Nabi Abdurrahman bin Samurah : Maka saya datang kepada Nabi, beliau sedang mendo’a dalam sembahyang mengangkat tangannya”. (H. Riwayat juzu’ VI pagina 217).

Hadits-hadits ini dapat membatalkan fatwa orang yang mengatakan bahwa mendo’a dalam sembahyang tidak mengangkat tangan.

Pendeknya sekalian do’a yang dipohonkan kepada Tuhan sunnat mengangkat tangan – sesuai dengnan perbuatan Nabi Muhammad Saw. – terkecuali pada ketika mendo’a dimana tangan sedang bertugas dengan amal lain, umpama do’a dalam fatihah dimana tangan sedang bertugas, begitu juga dalam duduk antara dua sujud, do’a tahiyaat dan lain-lain.

Jika menurut sobat Artikel ini bermanfaat silahkan Berbagi/Share. seandainya ada kesalah fahaman silahkan kami tunggu sarannya sobat

Menggerakkan Telunjuk Ketika Tasyahud


Menggerakkan Telunjuk Ketika Tasyahud

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Permasalahan satu ini sering jadi perdebatan di kalangan para ikhwah. Apakah dalam tasyahud mesti menggerakkan jari telunjuk, atau jarinya dalam keadaan diam saja. Untuk masalah yang satu ini, kami cuma menukil penjelasan dari salah seorang ulama saja tentang status hadits menggerak-gerakkan jari. Kami tidak sampai berpanjang lebar dalam membahas hal ini karena ternyata di dunia maya juga sudah dibahas oleh ustadz lainnya. Sehingga kami cukupkan dengan penjelasan singkat dari ulama Mesir, Syaikh Musthofa Al ‘Adawi hafizhohullah dalam kitab beliau Syarh ‘Ilalil Hadits. Semoga bermanfaat.

Syaikh Musthafa Al ‘Adawi berkata,

Mengenai ziyadah (tambahan) lafazh “yuharrikuhaa” (يحركها) yaitu pada hadits yang membicarakan isyarat dengan telunjuk ketika tasyahud, hadits tersebut diriwayatkan dalam beberapa kitab. Sumbernya adalah dari ‘Ashim bin Kulaib, dari ayahnya. Dari Wail bin Hujr, ia berkata,

“Aku katakan, “Sungguh, aku memperhatikan shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bagaimana beliau melakukan shalat.” Ia berkata, “Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri dan menghadap kiblat, lalu bertakbir, lalu ia mengangkat kedua tangannya hingga sejajar kedua telinga, dan meletakkan tangan kanannya di atas punggung telapak tangan kirinya.” Kemudian saat akan ruku’ beliau mengangkat kedua tangannya seperti itu juga. Ketika sujud, beliau meletakkan kepalanya dengan posisi berada di depannya. Kemudian setelah itu beliau duduk iftirosy (menduduki kakinya yang kiri). Lantas ketika itu beliau letakkan tangan kirinya di atas paha kirinya, sedangkan siku kanannya diletakkan di atas paha kanannya. Beliau menggenggam dua jarinya dan membuat lingkaran. Aku melihatnya berkata seperti itu. Yaitu beliau membentuk lingkaran dengan jari jempol dan jari tengah (menurut salah satu riwayat). Lalu beliau berisyarat dengan jari telunjuk.

Perkataan kita sekarang adalah pada lafazh “asyaro bis-sabaabah”, artinya beliau berisyarat dengan jari telunjuk. Mayoritas perowi meriwayatkan hadits seperti itu, yaitu dikatakan “beliau berisyarat dengan jari telunjuk”. Sebagian perowi berkata lagi, “Beliau berisyarat dengan jari telunjuk dan berdoa dengannya.”

Adapun Zaidah bin Qudamah, beliau meriwayatkan hadits dengan lafazh, “Kemudian beliau mengangkat jarinya, maka aku melihat beliau menggerak-gerakkan jarinya lantas beliau berdoa dengannya.” Zaidah rahimahullah bersendirian dalam meriwayatkan hal ini berbeda dengan perowi yang lain. Bedanya beliau adalah karena adanya tambahan lafazh “yuharrikuhaa”, artinya beliau menggerak-gerakkan jarinya.

Zaidah bin Qudamah itu tsiqoh (kredibel) dan orang yang mulia, semoga Allah merahmati beliau. Beliau juga dipandang sebagai orang yang tsiqah (kredibel) dan muthqin (kokoh hafalannya). Akan tetapi, mayoritas perowi tidak menyebutkan sebagaimana yang disebutkan oleh Zaidah. Sehingga dari sini kita diamkan tambahan yang dibuat oleh Zaidah yaitu tambahan “yuharrikuhaa”, artinya beliau menggerak-gerakkan jarinya.
Sebagaimana yang Anda lihat, Zaidah hanya bersendirian dalam meriwayatkan lafazh “yuharrikuha” (beliau menggerak-gerakkan jarinya).

Ibnu Khuzaimah rahimahullah berkata, “Tidak ada dalam satu riwayat yang menyebutkan “yuharrikuha” kecuali dari riwayat Zaidah di mana beliau (bersendirian) menyebutkannya.”

Al Baihaqi rahimahullah berkata, “Boleh jadi yang dimaksud dengan yuharrikuha (menggerak-gerakkan jari) adalah hanya berisyarat dengannya, bukan yang dimaksud adalah menggerak-gerakkan jari. Sehingga jika dimaknai seperti ini maka jadi sinkronlah dengan riwayat Ibnu Az Zubair. Wallahu a’lam.”

Aku (Syaikh Mushthafa Al ‘Adawi) berkata, “Riwayat Ibnu Az Zubair yang dikeluarkan oleh Muslim hanya menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya berisyarat saja dan tidak disebutkan menggerak-gerakkan jari (Syarh ‘Ilalil Hadits, Syaikh Musthofa Al ‘Adawi, Maktabah Makkah, 168-170)

Sekali lagi ini adalah masalah khilafiyah, jadi kami pun menghargai pendapat lainnya. Namun demikianlah pendapat yang kami pegang berdasarkan penelitian dari hadits-hadits yang ada sesuai dengan keterbatasan ilmu yang ada pada kami.

Catatan yang perlu diperhatikan, tidaklah usah merasa aneh jika ada yang tidak menggerak-gerakkan jari ketika tasyahud. Sebagaimana tidak perlu merasa aneh jika ada yang menggerak-gerakkan jari karena sebagian ulama berpendapat seperti ini. Namun sebaik-baik pendapat yang diikuti adalah yang berpegang pada pendapat yang kuat. Jika yakin bahwa hadits menggerak-gerakkan jari itu lemah karena menyelisihi banyak perowi yang lebih tsiqoh, maka sudah sepatutnya yang diikuti adalah yang yakin yaitu tidak menggerak-gerakkan jari. Namun ingat, tetaplah tolerir dengan pendapat lainnya karena masalah ini masih dalam tataran khilafiyah (silang pendapat antara para ulama). Wallahu a’lam bish showab.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

Total Pageviews

twitt sma w9

Template Information

728-banner

Flag Counter
Diberdayakan oleh Blogger.